Ada Diskon PPN Tak Bikin Gen Z Berlomba Beli Rumah, Ini Penyebabnya

SHARE  

Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia – Generasi Z atau Gen Z disebut-sebut kurang menaruh minat membeli rumah. Meski saat ini ada insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) yang ditetapkan lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 120/202 dan mulai berlaku pada 21 November 2023. Insentif itu berlaku untuk pembelian rumah baru sampai Rp5 miliar. 

Lalu apa alasannya? Ternyata, karena Gen Z memang belum berpikir untuk membeli rumah. 

“Karena mereka (Gen Z) penghasilannya itu kalau dihitung sudah habis dipakai untuk sehari-hari, mereka nggak bisa nyisain uang untuk beli cicilan rumah. Mereka tidak membayangkan bahwa ‘saya harus menyiapkan uang per bulan berapa juta untuk membeli rumah’,” kata Direktur Research & Consultancy Savills, Dani Indra Bhatara dalam Property Point CNBC Indonesia, Rabu (24/1/2024).

“Sehingga tentunya program itu yang terkait dengan PPN subsidi bukan menyasar Gen Z,” imbuhnya.

Baca: Diskon Rumah Rp 5 Miliar Resmi Berlaku, Begini Simulasinya!

Menurut Dani, program PPN DTP yang dilakukan oleh pemerintah justru lebih menyasar kepada Generasi Milenial maupun generasi di atasnya, yang mana memang pola pikir generasi tersebut saat ini sudah memikirkan bagaimana caranya harus memiliki properti atau rumah.

“Memang saat ini mereka adalah end user yang merasa bahwa kemarin udah sempat nabung tapi kok harga naik terus, dengan PPN-nya turun, artinya ada diskon ya. Mereka melihat ‘Oh kesempatan untuk beli rumah atau untuk investor juga’, karena memang properti ini juga mau nggak mau tumbuh karena investor,” ujarnya.

Meski demikian, Dani tetap melihat ini sebagai hal yang positif, lantaran pemerintah sudah bisa dikatakan berhasil dalam mendorong masyarakat Indonesia untuk melakukan pembelian di properti.

“Sehingga kalau ada suatu diskon ya dalam bentuk PPN ini, pembuat end user dan investor ini juga masih mau masuk lagi ke properti. Saya rasa pemerintah melihatnya yang penting ada pergerakan di dalam, walaupun baby step. Tapi at least ini mendorong orang untuk melakukan pembelian di properti,” tukas dia.

Direktur Research & Consultancy, Savills Indonesia, Dani Indra Bhatara dalam Property Point di CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia TV)Foto: Direktur Research & Consultancy, Savills Indonesia, Dani Indra Bhatara dalam Property Point di CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia TV)
Direktur Research & Consultancy, Savills Indonesia, Dani Indra Bhatara dalam Property Point di CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia TV)

Dani tak menampik adanya realitas harga rumah saat ini sudah sangat tinggi dan tidak sebanding dengan upah serta pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh masyarakat.

Selain itu, lanjutnya, meski pemerintah saat ini juga sudah menyediakan perumahan yang harganya terjangkau dengan program-program yang dilakukan, namun lokasi perumahan subsidi dari pemerintah itu banyak dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.

“(Perumahan subsidi) itu tidak sesuai dengan ekspektasi dari masyarakat karena lokasinya terlalu jauh. Misalkan sekarang kita kerja di Jakarta, tapi rumah yang murah itu (jarak tempuh kantor-rumah) bisa 2,5 jam, sehingga itu di luar dari ekspektasi,” jelasnya.

Utamanya untuk kalangan Gen Z, menurut Dani Gen Z sudah terbiasa hidup nyaman di tengah kota dengan fasilitas-fasilitas perkotaan yang sangat baik, sehingga jika Gen Z disuruh pindah ke lokasi yang relatif lebih jauh, tentunya mereka tidak akan rela.

“Ini yang membuat ekspektasi mereka terhadap rumah-rumah yang affordable itu nggak nyampe. Sehingga pemerintah akhirnya.. ya rumah-rumah tadi lebih cocok untuk orang-orang yang memang mungkin bekerjanya daerah pinggiran, mungkin untuk yang kawasan industri, atau beberapa juga terpaksa ya. Seperti mungkin pekerja di perkantoran yang memang saat ini masih UMR mau tidak mau terpaksa mereka harus ke sana (perumahan subsidi di pinggiran kota), dengan menurunkan https://mesintik.com/ekspektasi dan ego,” pungkasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*